telaah estetika (stilistika) sajak ibunda

TELAAH ESTETIKA (STILISTIKA)

SAJAK IBUNDA

KARYA WS. RENDRA

 

  1. Pendahuluan

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer (KBBI). Bahasa merupakan media ekspresi penyair utuk melahirkan sebuah puisi, namun bahasa yang digunakan oleh penyair yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah puisi tentulah berbeda antara satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan setiap penyair memiliki ciri khas dalam pemilihan kata (diksi), yang akhirnya menjadi stilistika penyair bersangkutan.

Dalam karya sastra (khususnya sajak), stilistika akan menentukan nilai estetika sebuah sajak. Tidak ada seorang ahli pun yang dapat mendefenisikan tentang keindahan itu. Hal ini dapat dimengerti karena keindahan itu sifatnya sangat subyektif yang mencakup pengalaman indrawi seseorang.

Untuk dapat memahami estetika (dalam hal ini terbatas pemahaman terhadap gaya bahasa atau stilistika) dibicarakan stilistika pada seduah sajak karya WS. Rendra yang berjudul ”Ibunda”. Sajak ini mengambarkan peranan seorang ibu bagi anaknya dengan menggunakan pilihan kata (diksi) yang kaya sehingga mengandung penafsiran yang kaya pula.

 

  1. Pembahasan

Sajak yang berjudul //Ibunda//

            Penyair menggunakan atau memilih kata /Ibunda/ untuk judul sajaknya, untuk menggambarkan sosok seorang perempuan yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan kita, yakni orang tua perempuan kita yang biasa kita panggil ibu. Penyair menmilih kata Ibunda karena terdengar lebih sopan dan sangat hormat

            Bait pertama. Baris pertama. //Mengenangkan/ ibu// Kata /mengenangkan/ memiliki makna mengingat, membayangkan sesuatu yang telah tarjadi. Penyair tidak memakai kata mengingat atau membayangkan karena tidak memiliki nilai estetis. /ibu/ merupakan sapaan bagi  orang tua perempuan.

Baris kedua. //adalah/ mengenangkan/ buah-buahan.// Kata /adalah/ merupakan kata sambung untuk menghubungkan kalimat pada baris pertama dengan baris kedua. /mengenangkan/ disini memiliki makna yang sama seperti pada baris pertama yakni mengingat. Kata /buah-buahan/ disini memiliki makna pokok sesuatu yang menyegarkan. Baris pertama dan kedua sajak di atas sebenarnya menjadi satu kalimat yang utuh karena baris kedua diakhiri dengan tanda titik, yaitu mengenangkan ibu adalah mengenangkan buah-buahan yang memiliki makna secara semantic yang utuh juga. Dengan demikian, secara paradigmatik dan sintagmatik dapat dimaknai dua baris sajak di atas, yaitu bahwa saat mengingat ibu sama halnya dengan mengingat sesuatu yang menyegarkan.

Baris ketiga. //Istri/ adalah/ makanan/ utama.// Kata /istri/ bermakna seorang perempuan yang menjadi pendamping hidup laki-laki. Kata /adalah/ merupakan kata sambung. Kata /makanan/  bermakna sebagai sesuatu yang selalu dibutuhkan setiap hari untuk dapat terus melangsungkan hidup. Kemudian kata /utama/ bermakna sesuatu yang paling penting atau yang menduduki peringkat nomor satu. Baris ketiga ini merupakan satu kesatuan kalimat yang utuh karena diakhiri tanda titik. Dengan demikian secara sintagmatik dan paradigmatik, kalimat ini dapat diartikan bahwa seorang istri merupakan orang yang sangat penting dalam kehidupan ini, dimana istri memiliki peranan yang nomor satu di mata seorang suami.

Baris keempat. //Pacar/ adalah/ lauk pauk.// Kata /pacar/ bermakna seseorang yang teman dekat (lawan jenis) yang memiliki peran lebih dari sekedar teman biasa. Kata /adalah/ merupakan kata sambung. Kata /lauk pauk/ bermakna orang yang dapat kita jadikan sebagai teman setia. Kalimat pada baris keempat juga merupakan satu kesatuan kalimat yang utuh karena diakhiri tanda titik. Dengan demikian secara sintagmatik dan paradigmatik, kalimat ini bermakna pacar dapat dijadikan sebagai teman setia.

Baris kelima. //Dan/ Ibu// Kata /Dan/ merupakan kata sambung. Kata /Ibu/ bermakna orang tua perempuan.

Baris keenam. //adalah/ pelengkap/ sempurna// Kata /adalah/ merupakan kata hubung, kata /pelengkap/ bermakna sesuatu yang bisa melengkapi dan kata /sempurna/ bermakna sesuatu yang  sangat bagus, lengkap tanpa memiliki kekurangan sedikitpun.

Baris ketujuh. //kenduri/ besar/ kehidupan.// Kata /kenduri/ bermakna menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Kata /besar/ bermakna tidak kecil. Kata /kehidupan/ bermakna keaadaan saat kita hidup. Baris kelima, keenam dan ketujuh merupakan satu kesatuan kalimat yang utuh karena baris ketujuh diakhiri tanda titik, yaitu Dan ibu adalah pelengkap sempurna kenduri besar kehidupan yang memiliki makna yang secara semantis utuh juga. Dengan demikian, secara sintagmatik dan paradigmatik dapat dimaknai ketiga baris sajak diatas adalah ibu merupakan pelengkap yang sempurna dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat kita hidup.

Bait kedua baris pertama. //Wajahnya/ adalah/ langit/ senjakala :// Kata /wajahnya/ bermakna roman muka. Kata /adalah/ merupakan kata penghubung. Kata /langit/ bermakna batas pandangan atas yang cerah. Kata /senjakala/ bermakna suatu keadaan yang teduh dan menenangkan. Tanda titik dua ( : ) pada akhir kalimat karena pernyataan tersebut diikuti oleh rangkaian / pemeraian.

Baris kedua. //keagungan/ hari/ yang/ telah/ merampungkan/ tugasnya.//  Kata /keagungan/ bermakna keindahan, kata /hari/ bermakna waktu dari pagi sampai pagi lagi. Kata /yang/ merupakan kata hubung. Kata /telah/ berarti sudah. Kata /merampungkan/ bermakna menyelesaikan, dan kata /tugasnya/ bermakna pekerjaan yang harus dilakukan. Kalimat pada baris pertama dan kedua merupakan satu kesatuan kalimat yang utuh karena pada baris kedua diakhiri dengan tanda titik, yaitu wajahnya adalah langit senjakala : keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya. Pada kalimat ini penyair menggunakan majas metafora. Secara sintagmatik dan paradigmatik dapat dimaknai kedua baris sajak diatas yaitu, wajah sang ibu seperti langit yang menyejukan, keindahan waktu yang telah dilalui telah membantu untuk menyelesaikan segala pekerjaannya.

Baris ketiga. //Suaranya/ menjadi/ gema// kata /Suaranya/ bermakna tutur kata atau ucapannya, kata /menjadi/ bermakna seperti. Kata /gema/ bermakna pantulan suara. Kalimat /Suaranya menjadi gema/ bermakna segala tutur kata atau ucapannya seperti terus terdengar berulang-ulang seakan selalu mengingatkan.

Baris keempat. //dari/ bisikan/ hati/ nuraniku.// kata /dari/ merupakan kata sebagai preposisi untuk menghubungkan dengan kata berikutnya yang menunjukan arah / asal, kata /bisikan/ bermakna suara yang terdengar kecil dan pelan-pelan. Frasa hati nuraniku bermakna perasaan yang murni dan sedalam-dalamnya yang dimiliki oleh seorang anak. Kalimat pada baris ketiga dan keempat ini juga merupakan satu kesatuan yang utuh karena pada kalimat ketiga diawali dengan huruf kapital dan pada baris keempat diakhiri tanda titik, yaitu suaranya menjadi gema dari bisikan hati nuraniku. Secara keseluruhan kedua sajak diatas dapat dimaknai, segala tutur kata atau ucapan seorang ibu seperti terus terdengar berulang-ulang yang berasal dari suara kecil  perasaan murni seorang anak.

Pada bait ketiga baris pertama. //Mengingat/ ibu,// Kata /mengingat/ bermakna memikirkan, kata /ibu/ bermakna orang tua perempuan.

Baris kedua. //aku/ melihat/ janji/ baik/ kehidupan.// Kata /aku/ bermakna saya (sang penyair) sendiri sebagai seorang anak. Kata /melihat/ bermakna mengetahui. Kata /janji/ berarti persetujuan. Kata /baik/ bermakna tidak jahat dan /kehidupan/ bermakna keadaan saat kita hidup. Kalimat pada baris pertama dan kedua merupakan satu kesatuan yang utuh, pada baris pertama pada akhir kalimat diakhiri tanda koma (,) yang digunakan untuk memisahkan induk kalimat dengan anak kalimat karena pada kalimat ini anak kalimat mendahului induk kalimatnya. Pada kalimat kedua diakhiri dengan tanda titik. Kalimat ini menggunakan majas personifikasi. Dengan demikian secara sintagmatik dan paradigmatik kedua sajak diatas dapat dimaknai saat memikirkan ibu, sang penyair merasa dapat mengetahui adanya persetujuan yang tidak jahat pada keadaan saat ia hidup sekarang.

Baris ketiga. //Mendengar/ suara/ ibu,// Kata /mendengar/ bermakna menyimak, kata /suara/ bermakna ucapan dan kata /ibu/ memiliki makna yang sama seperti pada kalimat di atas.

Baris keempat. //aku/ percaya/ akan/ kebaikan/ hati/ nurani/ manusia.// Kata /aku/ bermakna sang penyair, kata /percaya/ bermakna yakin, kata /akan/ bermakna adanya, kata /kebaikan/ bermakna tidak jahat, kata /hati/ bermakna perasaan terdalam, kata /nurani/ bermakna murni, dan kata /manusia/ bermakna orang. Kalimat pada baris ketiga dan keempat memiliki satu kesatuan yang utuh, karena pada baris keempat diakhiri tanda titik. Secara sintagmatik dan paradigmatic kalimat ini dapat dimaknai saat menyimak setiap ucapan orang tua perempuannya, penyair meyakini bahwa ada sesuatu yang tidak jahat yang berasal dari perasaan yang murni dan terdalam dari setiap orang.

Baris kelima. //Melihat/ photo/ ibu,// Kata /melihat/ bermakna menyaksikan, kata /photo/  bermakna gambar, kata /ibu/ bermakna sama dengan kalimat di atas. Kalimat //melihat photo ibu// secara keseluruhan bermakna menyaksikan gambar orang tua.

Baris keenam. //aku/ mewarisi/ naluri/ kejadian/ alam/ semesta.// Kata /aku/ bermakna saya (sang penyair), kata /mewarisi/ bermakna mendapatkan suatu peninggalan, kata /naluri/ bermakna dorongan, kata /kejadian/ bermakna peristiwa atau hal-hal yang terjadi, kata /alam/ bermakna dunia, dan kata /semesta/ bermakna seluruh. Kalimat pada baris kelima dan keenam merupakan satu kesatuan yang utuh karena pada akhir bait ketiga diakhiri dengan tanda titik. Secara sintagmatik dan paradigmatik keseluruhan kalimat pada baris kelima dan keenam ini dapat dimaknai bahwa saat melihat photo sang ibu, penyair mendapatkan dorongan dari setiap peristiwa yang terjadi di seluruh dunia. Pada bait ketiga ini penyair menggunakan majas personifikasi.

Pada bait keempat baris pertama //Berbicara/ dengan/ kamu,/ saudara-saudaraku,// Kata /berbicara/ memiliki makna berbincang, kata /dengan/ merupakan kata penghubung, kata /kamu/ disinimemiliki makna yang sama dengan kata saudara-saudaraku, sehingga setelah penulisan kata kamu diikuti dengan tanda koma (,) karena diikuti unsur perincian dan kata /saudara-saudaraku/ memiliki makna sapaan untuk orang yang sedang diajak berbicara.

Baris kedua //aku/ pun/ ingat/ bahwa/ kamu/ juga/ punya/ ibu.// Kata /aku/ bermakna sang penyair, kata /pun/ bermakna juga, kata /ingat/ bermakna tahu, kata /bahwa/ bermakna kalau, kata /kamu/ bermakna orang yang sedang diajak bicara, kata /juga/  bermakna, kata /punya/ bermakna memiliki, kata /ibu/ bermakna orang tua perempuan. Baris pertama dan kedua sajak di atas sebenarnya menjadi satu kalimat yang utuh karena baris kedua diakhiri dengan tanda titik, yaitu berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku, aku pun ingat bahwa kamu juga punya ibu. Secara keseluruhan kalimat tersebut dapat dimaknai saat berbicara dengan saudara-saudaranya, penyair juga ingat bahwa mereka juga memiliki ibu sama halnya dengan penyair.

Baris ketiga //Aku/ jabat/ tanganmu,// Kata /Aku/ bermakna sang penyair, kata /jabat/ bermakna pegang, kata /tanganmu/ bermakna lengan orang yang sedang diajak berbicara.

Baris keempat //aku/ peluk/ kamu/ di dalam/ persahabatan// Kata /aku/ bermakna sang penyair, kata /peluk/ bermakna rangkul, kata /kamu/ bermakna orang yang sedang diajak bicara, kata /di dalam/ bermakna di tengah, kata /persahabatan/ bermakna persaudaraan. Baris ketiga dan keempat sajak di atas sebenarnya menjadi satu kalimat yang utuh karena baris keempat diakhiri dengan tanda titik, kalimat ini berkaitan erat dengan kalimat diatasnya. Secara keseluruhan kalimat tersebut dapat dimaknai mengetahui saudara-saudaranya juga mempunyai ibu, penyair menjabat tangannya dan merangkulnya dalam persaudaraan.

Baris kelima //Kita/ tidak/ ingin/ saling/ menyakitkan/ hati,// Kata /kita/ merupakan kata ganti untuk orang pertama jamak, kata /tidak/  bermakna tak, kata /ingin/ bermakna mau, kata /saling/ digunakan untuk menerangkan perbuatan yang dilakukan secara berbalasan, kata /menyakitkan/ bermakna membuat menjadi sakit, kata /hati/ bermakna perasaan terdalam,

Baris keenam //agar/ kita/ tidak/ saling/ menghina/ ibu/ kita/ masing-masing// Kata /agar/ bermakna supaya, kata /kita/ memiliki makna yang sama dengan yang diatasnya, kata /tidak/  bermakna tak, kata /saling/ memiliki makna yang sama dengan di atas, kata /menghina/ bermakna mencela, /ibu/ bermakna orang tua perempuan, /kita/ memiliki makna yang sama dengan yang di depan, kata /masing-masing/ bermakna satu sama lain.

Baris ketujuh //yang/ selalu/ bagai/ bumi/ air/ dan/ langit,// Kata /yang/ digunakan untuk menyatakan bahwa kalimat berikutnya merupakan kalimat yang diutamakan, kata /selalu/ bermakna setiap saat, kata /bagai/ sebagai kata yang bermakna perumpamaan atau pengandaian, yaitu mengendaikan ibu, kata bagai lebih digunakan untuk membangkitkan estetika dan menguatkan intensitas imajinasi penyair, kata /bumi/ mengacu pada tanah yang kita pijak atau tempat kita hidup, kata /air/ mengacu pada makna sesuatu yang kita butuhkan untuk dapat tetap bertahan hidup, kata /dan/ merupakan kata hubung, kata /langit/ bermakna penggambaran dari suasana langit yang tinggi dan luas.

Baris kedelapan //membela/ kita/ dengan/ kewajaran.// Kata /membela/ bermakna merawat, kata /kita/ bermakna sang penyair dengan orang yang diajak bicara, kata /dengan/ bermakna menggunakan, kata /kewajaran/ bermakna keadaan apa adanya. Kalimat pada baris kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan merupakan satu kesatuan yang utuh, secara keseluruhan dapat dimaknai penyair dan saudaranya tidak mau saling menyakiti perasaan agar tidak saling mencela ibu masing-masing yang setiap saat seperti tempat untuk berpijak, selalu kita butuhkan dan selalu membela kita dengan apa adanya.

Bait kelima, baris pertama //Maling/ punya/ ibu./ Pembunuh/ punya /ibu.// Kata /maling/ bermakna pencuri/ orang yang merampas milik orang lain, kata /punya/ bermakna memiliki, kata /ibu/ bermakna orang tua perempuan. Kata /pembunuh/ bermakna orang yang membunuh, kata /punya/ bermakna sama dengan yang diatas, kata /ibu/ juga memiliki makna yang sama. Baris pertama ini terdiri dari dua kalimat karena diakhiri oleh dua titik pada tiap akhir kalimat, kalimat pertama, yaitu maling punya ibu. Dapat dimaknai bahwa orang yang suka merampas milik orang lain memiliki ibu. Kalimat kedua, yaitu pembunuh punya ibu. Kalimat kedua ini berfungsi untuk menegaskan dapat kita maknai bahwa selain pencuri, orang yang mempunyai sikap lebih kejampun yakni pembunuh juga mempunyai ibu.

Baris kedua. //Demikian/ pula/ koruptor,/ tiran,/ facist,// Kata /demikian/ mengacu pada makna begitu, kata /pula/ bermakna juga, kata /koruptor/ bermakna orang yang menyelewengkan (menggelapkan) uang Megara (perusahaan) tempat kerjanya, kata /tiran/ mengacu pada makna penguasa yang lalim / kejam.

Baris ketiga. //wartawan amplop,/ dan/ anggota/ parlemen/ yang/ dibeli// kata /wartawan amplop/ bermakna wartawan yang menerima uang atas berita yang dimuatnya, kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /anggota/ bermakna orang yang menjadi suatu bagian dari sebuah golongan, kata /parlemen/ mengacu pada dewan perwailan rakyat, kata /yang/ merupakan kata sambung, kata /dibeli/ bermakna disogok dengan uang.

Baris keempat. //mereka/ pun/ juga/ punya/ ibu.// Kata /mereka/ bermakna orang ketiga jamak yang mengacu pada maling, pembunuh, koruptor, tiran, facist, wartawan amplop,dan anggota parlemen, kata /pun/ merupakan partikel yang mempertegas makna mereka, kata /juga/ bermakna sama, kata /punya/ bermakna memiliki, kata /ibu/ bermakna orang tua perempuan. Baris kedua, ketiga dan keempat sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang utuh karena pada baris keempat ditandai tanda titik, yaitu Demikian pula koruptor,tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli, mereka pun juga punya ibu. Tanda koma disini berfungsi untuk memisahkan unsur-unsur dalam suatu perincian. Secara sintagmatik dan paradigmatik kalimat tersebut dapat dimaknai para penjahat yang merugikan rakyat juga mempunyai seorang ibu.

Bait keenam, baris pertama. //Macam/ manakah/ ibu/ mereka?// kata /macam/ bermakna seperti, kata /manakah/ mengacu pada apakah, kata /ibu/ bermakna orang tua perempuan, kata /mereka?/ bermakna orang ketiga jamak yang mengacu pada maling, pembunuh, koruptor, tiran, facist, wartawan amplop,dan anggota parlemen. Secara sintagmatik dan paradigmatik kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah pertanyaan, seperti apakah ibu mereka?.

Baris kedua. //Apakah/ ibu/ mereka/ bukan/ merpati/ di langit/ jiwa?// kata /apakah/ merupakan kata tanya untuk menegaskan informasi yang ingin diketahui, kata /ibu/ memiliki makna yang sama seperti diatas, kata /mereka/ juga memiliki makna yang sama seperti di atas, kata /bukan/ bermakna tak, kata /merpati/  merupakan lambang perdamaian, kata /di langit/ menunjukan tempat, yaitu dalam ruang yang luas, kata jiwa/  bermakna seluruh kehidupan batin manusia.

Baris ketiga. //Apakah/ ibu/ mereka/ bukan/ pintu/ kepada/ alam?// Kata /apakah/, /ibu/, /mereka/, dan /bukan/ memiliki makna yang sama dengan yang sajak pada baris kedua. Kata /pintu/ mengacu pada jalan untuk masuk dan keluar, kata /kepada/ bermakna menuju, kata /alam/ mengacu pada lingkungan kehidupan. Pada bait keenam ini menggunakan majas retoris.

Bait ketujuh. Baris pertama //Apakah/ sang anak/ akan/ berkata/ pada/ ibunya:// kata /apakah/ merupakan kata tanya untuk menegaskan informasi yang ingin diketahui, kata /sang anak/ bermakna seorang anak, kata /akan/ bermakna nanti, kata /berkata/ mengacu pada makna berbicara, kata /pada/ mengacu pada kepada, kata /ibunya/  mengacu pada ibu sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli.

Baris kedua //”ibu,/ aku/ telah/ menjadi/ antek/ modal asing,// kata /ibu/ mengacu pada ibu sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli. Kata /aku/ mengacu pada sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli itu sendiri, kata /telah/ bermakna sudah, kata /menjadi/ mengacu pada sebagai, kata /antek/ bermakna kaki tangan, kata /modal asing/ mengacu pada investor asing.

Baris ketiga. //yang/ memprodusir/ barang-barang/ yang/ tidak/ mengatasi// kata /yang/ merupakan kata hubung, kata /memprodusir/ mengacu pada memproduksi, kata /barang-barang/ mengacu pada benda-benda yang diproduksi, kata /yang/ merupakan kata sambung, kata /tidak/ bermakna tak, kata /mengatasi/ bermakna menanggulangi.

Baris keempat. //kemelaratan/ rakyat,// kata /kemelaratan/ bermakna penderitaan, kata /rakyat/ mengacu pada masyarakat.

Baris kelima. //lalu/ aku/ beli/ gunung Negara/ dengan/ harga/ murah,// kata /lalu/ bermakna kemudian, kata /aku/ mengacu pada sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli itu sendiri, kata /beli/ mengacu pada membeli, kata /gunung Negara/ mengacu pada gunung yang merupakan milik dari Negara bukan merupakan milik perseorangan, kata /dengan/  merupakan kata pengdubung untuk menerangkan kata sifat, kata /harga/ mengacu pada nilai suatu barang yang ditentukan dengan uang, kata /murah/ bermakna lebih rendah dari yang berlaku.

Baris keenam. //sementara/ orang desa/ yang/ tanpa/ tanah// kata /sementara/ mengacu pada pihak lain, kata orang desa/ bermakna masyarakat yang tinggal di desa, kata /yang/ merupakan kata sambung, kata /tanpa/ mengacu pada tidak dengan, kata /tanah/ mengacu pada tempat tinggal.

Baris ketujuh. //jumlahnya/ melimpah.// kata /jumlahnya/  mengacu pada jumlah orang desa, kata /melimpah/ mengacu pada sangat banyak.

Baris kedelapan. //Kini/ aku/ kaya.// kata /kini/ bermakna saat ini, kata /aku/ mengacu pada sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli, kata /kaya/ bermakna memiliki banyak uang.

Baris kesembilan. //Dan/ lalu,/ ibu,/ untukmu/ aku/ beli/ juga/ gunung// kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /lalu/ bermakna kemudian, kata /ibu/ mengacu pada ibu sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli, kata /untukmu/ bermakna untuk ibu, kata /aku/ memiliki makna yang sama seperti baris diatas, kata /beli/ mengacu pada membeli, kata /juga/ berfungsi sebagai penegas kata beli, kata /gunung/ bermakna bukit yang sangat besar.

Baris kesepuluh. //bakal/ kuburanmu/ nanti.”// kata /bakal/ mengacu pada untuk, kata /kuburanmu/ bermakna tempat persemayaman terakhir sang ibu, kata /nanti/ mengacu pada kelak.

Baris kesebelas. //Tidak./ Ini/ bukan/ kalimat/ anak/ kepada/ ibunya.// kalimat pada baris kesebelas ini bermakna bahwa penyair menyatakan bahwa kalimat pernyataan di atas tidak benar, dan mengatakan itu bukanlah kalimat seorang anak yang diucapkan pada ibunya.

Baris keduabelas. //Tetapi/ lalu/ bagaimana/ sang anak/ akan// kalimat pada baris ini merupakan pertanyaan dari kalimat di atas.

Baris ketigabelas. //menerangkan/ kepada/ ibunya// kata /menerangkan/ bermakna menjelaskan, kata /kepada/ bermakna pada, kata /ibunya/ mengacu pada ibu sang koruptor, tiran, facist, wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli.

Baris keempatbelas. //tentang/ kedudukannya/ sebagai// kata /tentang/ mengacu pada mengenai, kata /kedudukannya/ bermakna jabatannya, kata /sebagai/ mengacu pada menjadi.

Baris kelimabelas. //tiran,/ koruptor,/ hama hutan,// kata /tiran/ mengacu pada makna penguasa yang lalim / kejam, kata /koruptor/ bermakna orang yang menyelewengkan (menggelapkan) uang Megara (perusahaan) tempat kerjanya, kata /hama hutan/ mengacu pada perusak.

Baris keenambelas. //dan/ tikus sawah?// kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /tikus sawah/ mengacu pada seorang pengerat.

Baris ketujuhbelas. //Apakah/ sang tiran/ akan/ menyebut/ dirinya// kata /apakah/ merupakan kata tanya, kata /sang tiran/ memiliki makna yang sama seperti di atas, kata /akan/ bermakna nanti, kata menyebut/ bermakna mengatakan, kata /dirinya/ mengacu pada diri sang tiran tersebut.

Baris kedelapanbelas. //sebagai/ pemimpin/ revolusi?// kata /sebagai/ mengacu pada menjadi, kata /pemimpin/ mengacu pada seorang yang memimpin, kata /revolusi/ bermakna perubahan ketatanegaraan.

Baris kesembilanbelas. //koruptor/ dan/ antek modal asing/ akan// kata /koruptor/ bermakna orang yang menyelewengkan (menggelapkan) uang Megara (perusahaan) tempat kerjanya, kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /antek modal asing/ bermakna kaki tangan investor, kata /akan/ bermakna nanti.

Baris keduapuluh. //menamakan/ dirinya/ sebagai/ pah-// kata /menamakan/ bermakna menamai dirinya, kata /dirinya/ mengacu pada sang koruptor dan antek modal asing, kata /sebagai/ mengacu pada menjadi.

Baris keduapuluhsatu. //lawan/ pembangunan?// kata /lawan/ merupakan penggalan kata diatasnya yang secara keseluruhan memiliki makna orang yang berjasa, kata /pembangunan/ bermakna pembaharuan.

Baris keduapuluh dua. //Dan/ hama hutan/ serta/ tikus sawah/ akan// kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /hama hutan/ mengacu pada perusak, kata /serta/ mengacu pada dan, kata /tikus sawah/ mengacu pada seorang pengerat.

Baris keduapuluh tiga. //menganggap/ dirinya/ sebagai/ petani teladan?// kata /menganggap/ bermakna memaknai, kata /dirinya/ mengacu pada hama hutan dan tikus sawah, kata /sebagai/ mengacu pada menjadi, kata /petani teladan/ mengacu pada orang yang patut ditiru.

Bait kedelapan. Baris pertama //Tetapi/ lalu/ bagaimana/ sinar pandang/ mata/ ibunya?// kalimat ini bermakna sebuah pertanyaan tentang bagaimana pandangan seorang ibu terhadap anaknya.

Baris kedua. //Mungkinkah/ seorang/ ibu/ akan/ berkata:// kalimat ini bermakna suatu pendapat seperti inikah perkataan sang ibu.

Baris ketiga. //”Nak,/ jangan/ lupa/ bawa/ jaketmu.// kalimat ini bermakna anakku ingatlah membawa jaketmu.

Baris keempat. //Jagalah/ dadamu/ terhadap/ hawa/ malam.// kalimat ini bermakna lindungilah tubuhmu dari udara pada malam hari.

Baris kelima. //Seorang/ wartawan/ memerlukan/ kekuatan/ badan// kalimat ini bermakna seorang penburu berita perlu fisik yang kuat.

Baris keenam. //O, ya,/ kalau/ nanti/ kamu/ dapat/ amplop,// kalimat ini  bermakna jika nanti kamu dapat uang.

Baris ketujuh. //tolong/ belikan/ aku/ udang goreng.”// kalimat ini bermakna belikan udang goring untuk ibu.

Bait ketujuh dan kedelapan sajak ini merupakan sebuah narasi. Sang penyair menceritakan tentang bagaimana para penjahat-penjahat yang merugikan rakyat menjelaskan tentang kedudukannya kepada ibunya dengan percakapan yang terjadi diantara anak dengan ibunya.

Bait kesembilan. baris pertama //ibu,/ kini/ aku/ makin/ mengerti/ nilaimu.// Kata /ibu/ mengacu pada orang tua perempuan, kata /kini/ mengacu pada keadaan saat ini, kata /aku/ bermakna sang penyair, kata /makin/ bermakna semakin, kata /mengerti/ bermakna memahami, kata /nilaimu/ mengacu pada sifat-sifat sang ibu. Secara sintagmatik dan paradigmatik kalimat ini dapat kita maknai bahwa saat ini sang penyair sudah semakin paham bagaimanasifat-sifat ibunya.

Baris kedua //Kamu/ adalah/ tugu/ kehidupanku// Kata /kamu/ mengacu pada sang ibu, kata /adalah/ merupakan kata sambung, kata /tugu/ bermakna sesuatu yang menjadi pokok kekuatan atau penghidupan, kata /kehidupanku/ mengacu pada kehidupan sang penyair.

Baris ketiga. //yang/ tidak/ dibikin-bikin/ dan/ hambar/ seperti/ monas/ dan/ Taman Mini// Kata /yang/ merupakan kata sambung, kata /tidak/ berarti tak, kata /dibikin-bikin/ bermakna dibuat-buat, kata /dan/ merupakan kata sambung, kata /hambar/ bermakna tidak terasa apa-apa, kata /seperti/ setara dengan kata bak, bagaikan,  kata /monas/ mengacu pada tugu yang tinggi, kata /dan/ merupakan kat sambung, kata /Taman Mini/ mengacu pada tman buatan manusia. Kalimat pada baris kedua dan ketiga bait kesembilan sajak ini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh, yang secara keseluruhan dapat dimaknai ibu merupakan pokok kekuatan atau penghidupan sang penyair yang tidak dibuat-buat dan hambar seperti monas dan taman mini yang merupakan bangunan buatan manusia.

Bait terakhir dalam sajak ini menggunakan majas repetisi, khususnya anafora. Pada baris pertama // Kamu/ adalah/ Indonesia/ Raya// kata /Kamu/ mengacu pada ibu, kata /adalah/ merupakan kata sambung, kata /Indonesia/ mengacu pada suatu bangsa, kata /Raya/ bermakna besar.

Baris kedua. //kamu/ adalah/ hujan/ yang/ kulihat/ di/ desa// kata /kamu/ dan /adalah/ merupakan repetisi, kata /hujan/ bermakna sesuatu yang datang secara beramai-ramai, kata /yang/ merupakan kata hubung, kata /kulihat/ bermakna ku saksikan, kata /di desa/ mengacu pada tempat yang jauh akan keramaian.

Baris ketiga. //kamu/ adalah/ hutan/ di/ sekitar/ telaga// kata /kamu/ dan /adalah/ merupakan repetisi, kata /hutan/ mengacu pada tanah yang luas, kata /di sekitar/ bermakna disekeliling, kata /telaga/ mengacu pada danau.

Baris keempat. //kamu/ adalah/ teratai/ kedamaian/ semadhi// kata /kamu/ dan /adalah/ merupakan repetisi, kata /teratai/ mengacu pada bunga yang mekar pada malam hari, kata /kedamaian/ mengacu pada ketenangan, kata /semadhi/ mengacu pada pengendalian diri.

Baris kelima. //kamu/ adalah/ kidung/ rakyat/ jelata// kata /kamu/ dan /adalah/ merupakan repetisi, kata /kidung/ mengacu pada suara, kata /rakyat/ mengacu pada masyarakat, kata /jelata/ bermakna melarat.

Baris keenam. //kamu/ adalah/ kiblat/ hati/ nurani/ di dalam/ kelakuanku// kata /kamu/ dan /adalah/ merupakan repetisi, kata /kiblat/ bermakna arah, kata /hati/ bermakna perasaan terdalam, kata /nurani/ bermakna murni, kata /di dalam/ mengacu pada dalam hati, kata /kelakuanku/ mengacu pada tindakan sang penyair.

 

  1. Simpulan

Demikianlah pembicaraan estetika (stilistika) sajak WS. Rendra yang berjudul ”Ibunda”. Sajak ini relatif panjang, sajak ini mampu menceritakan seberapa besar makna seorang ibu bagi anaknya, sajak ini juga menggunakan narasi dalam penceritaannya. Penyair juga menggunakan kata-kata simbolik, dengan kata-kata tersebut penyair mampu membawa angan dan imajinasi pembaca ke dalam suatu ruang yang diinginkan penyair, yaitu ruang makna tentang kehidupan manusia, khususnya makna seorang ibu bagi seorang anak.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s