Sinopsis Novel Para Priyayi

Cerita ini berawal dari Wanagalih, sebuah ibu kota kabupaten yang telah hadir sejak pertengahan abad ke-19. Masyarakat di kota ini sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pembuat tempe. Begitu juga halnya dengan nenek moyang Wage, ah… salah maksudnya Lantip. Lantip tinggal di desa Wanalawas bersama Emboknya dan Embah Wedok, ibu dari Emboknya. Ayahnya tidak tahu entah dimana, menurut Emboknya ayahnya sedang pergi jauh untuk mengumpulkan uang. Sehari-hari Embok bekerja membuat tempe dan kemudian berkeliling menjajakan tempe buatannya yang empuk dan gurih itu, sedangkan Lantip tinggal dirumah bersama Embah Wedok.

Sampai suatu hari ketika Embah Wedok sudah tiada. Lantip kemudian dititipkan pada keluarga priyayi, keluarga langganan tempe Embok yaitu keluarga Sastrodarsono yang terletak di Jalan Satenan, tidak jauh dari Wanalawas. Di sini Lantip dirawat oleh Ndoro Guru Kakung dan Ndoro Guru Putri, ia banyak diajarkan kebiasaan-kebiasaan para priyayi. Sejak tinggal di rumah Ndoro Guru itulah secara tidak langsung dia mengetahui bahwa Ayahnya adalah seorang kepala kecu, anak maling. Setelah cukup lama tinggal bersama keluarga di Jalan Setenan itu, Ndoro Guru kemudian memutuskan untuk menyekolahkan Lantip di sekolah tempat Ndoro Guru mengajar. Sejak saat itulah nama Wage kemudian diganti menjadi Lantip.

Suatu hari, tiba-tiba datang kabar dari desa yang mengatakan bahwa Emboknya telah meninggal karena keracunan jamur. Setelah mendengar kabar itu, saat itu juga Lantip dan Ndoro Guru Kakung kemudian pergi ke Wanalawas. Setibanya di desa, para tetangga langsung mendekap Lantip. Semua memberikan wejangan agar ia tabah menghadapi cobaan ini karena ini sudah merupakan kehendak Tuhan. Yang sangat mengesankan buat Lantip saat itu adalah Ndoro Guru Kakung masih tetap mau duduk-duduk dan mengobrol dengan orang-orang desa, walaupun dia adalah seorang priyayi yang cukup tepandang. Dan sepertinya dia kenal betul dan akrab dengan desa Wanalawas serta orang-orangnya.

Ndoro Guru Kakung terlahir dari keluarga petani desa, kehadirannya sangat diharapkan dapat meningkatkan derajat keluarganya untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil, untuk mewujudkan hal itu beliau kemudian diberi nama Soedarsono. Dan berkat bantuan dan dorongan dari Asisten Wedana Ndoro Seten, ia bisa bersekolah dan kemudian menjadi guru desa. Setelah menjadi seorang guru, beliau kemudian dijodohkan dengan Siti Aisah, yang dipanggilnya Dik Ngaisah. Dan ketika telah beranjak tua nama Soedarsono kemudian diganti menjadi Sastrodarsono.

Setelah diadakan pesta pernikahan yang cukup mewah. Mereka kemudian memiliki tiga orang anak, dua putra dan satu putri. Anak yang pertama diberi nama Noegroho, yang kedua Hardoyo dan yang terakhir seorang putri yang diberi nama Soemini. Anak-anak mereka kemudian semuanya dimasukkan di sekolah HIS Wanagalih. Setelah tamat di HIS, kedua anak laki-lakinya kemudian melanjutkan sekolah di Kweekschool, sekolah guru di Yogya.

Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu  bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.

Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk walaupun sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri dan juga sering mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang namun dia tidak jera juga.

Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem, Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi. Soenandar  bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar. Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar dalam markasnya.

Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya  anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya  adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang  ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono.

Dalam mendidik dan membesarkan keponakan-keponakannya Sastrodarsono merasa tidak berhasil bila dibandingkan dengan anak-anak kandungnya, mereka mandapat pendidikan dan pekerjaan serta kedudukan yang baik.

Soemini yang sudah berumur dua belas tahun dan baru duduk di kelas lima. Dua tahun lagi dia sudah kelas tujuh umurnya empat balas tahun, dan sesudah tamat umurnya sudah dekat dengan lima belas tahun. Maka sudah sepantasnya dicarikan jodoh yang pantas buat Soemini. Soemini kemudian dinikahkan dengan Raden Harjono, seorang mantri polisi, anak tunggal Kamas Soemodiwongso. Keluarga Sastrodarsono sangat terkesan dengan perilaku Raden Harjono yang sopan, luwes, ganteng, baik hati, dan cerdas. Dalam rumah tangganya Soemini mendapat goncangan karena mengetahui suaminya, Harjono selingkuh dengan perempuan yang bekerja sebagai penyanyi keroncong, Sri Asih. Ia mengadu kepada Sastrodarsono. Namun akhirnya dapat terselesaikan.

Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sudah mapan dan mau membangun rumah tangga di tempat ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk, begitu panggilan gadis yang memiliki nama lengkap Maria Magdalena Sri Moerniati, yang merupakan guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan, ditolak oleh keluarga Sastrodarsono karena perbedaan agama.

Setelah kegagalan menikah dengan Dik Nunuk hidup Hardojo terlihat tidak bergairah lagi. Dia sering kali teringat dengan Dik Nunuk. Pada suatu sore, Hardojo sedang memimpin murid-murid kelas tujuh bermain kasti. Seperti biasa mereka bermain dengan gembira dan penuh gurauan. Kemudian tiba giliran Soemarti yang memukul bola, tetapi saat berlari menuju hong  kakinya terporosok dan jatuh. Soemarti mengaduh kesakitan dan Hardojo kemudian segera menolongnya. Sejak kejadian itu Hardojo jadi sering berkunjung ke rumah Soemarti, anak tunggal keluarga priyayi Brotodinomo seorang pensiunan panewu, kira-kira sederajat dengan asisten wedana di Wonogiri. Dan akhirnya merekapun menikah dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang diberi nama Harimurti. Karena mereka tidak akan bias mempunyai anak lagi, maka Hardojo memutuskan untuk menjadikan Lantip sebagai anak angkatnya.

Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon karena dituduh mendirikan sekolah liar, padahal Sastrodarsono mendirikan sekolah hanya untuk menolong orang-orang desa yang tidak bisa membaca dan menulis, “yang disebut sekolah di Wanalas itu usaha kami sekeluarga. Kami pengagum Raden Adjeng Kartini, Ndoro. Kami Cuma meniru beliau, Ndoro.” Begitu ucapan bapaknya masih terngiang di telinga Noegroho saat beralasan pada tuan Nippon. Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.n

Dalam mengurus rumah tangganya Noegroho tidak berhasil seperti kedudukannya sebagai priyayi yang terhormat dikalangan masyarakat seperti yang diharapkan oleh Sastrodarsono, karena Marie anak perempuan Noegroho hamil sebelum menikah. Maridjan, laki-laki yang menghamilinya, adalah laki-laki miskin, orang desa, kehidupannya pun cukup dengan mengontrak. Yang lebih parahnya lagi Maridjan itu pernah memperkosa pembantu rumah kost-nya sampai akhirnya menikah dan pada saat kenal dengan Marie, Maridjan dalam kasus perceraian. Tetapi berkat bantuan Lantip dan Hari akhirnya Maridjan menikahi Marie.

Persiapan pernikahan Marie dikalutkan dengan meninggalnya Mbah Putri. Saat pernikahan Marie, Sastrodarsono tidak dapat menghadirnya karena masih terlihat lemas setelah mengurusi meninggalnya Mbah Putri.

Gus Hari, anak tunggal Hardojo tumbuh sebagai pemuda yang peka, gampang menaruh belas kepada penderitaan orang. Dia sangat cerdas dan banyak menaruh perhatian pada bidang kesenian. Walaupun ia keluaran dari suatu perguruan tinggi namun dalam kehidupannya, ia tidak memanfaatkan hasil kuliahnya itu tetapi ia bergabung dengan lekra kesenian wayang.

Dalam kesempatan itulah Hari berkenalan dengan Gadis, seorang penulis yang nama aslinya Retno Dumilah yang menjadi pacarnya, karena saking dekatannya mereka sampai melakukan perbuatan yang dilarang agama sampai akhirnya Gadis pun hamil. Mengetahui hal itu Hari sangat ingin segera menikahi Gadis. Pada waktu pertunangan Lantip dengan Halimah kesempatan itu dipergunakan Hari untuk memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarga besar Sastrodarsono.

Pada suatu waktu mereka mengadakan pawai yang meneriakan dukungannya kepada Dewan Revolusi, Hari bersama Gadis  yang sama-sama tergabung dalam kesenian terperangkap, karena pada saat itu ABRI sedang mengambil alih mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan ormas-ormasnya.  Dalam keadaan gawat seperti itu Lantip memberikan saran agar sebaiknya Hari meyerahkan dirinya, dan nanti bisa meminta bantuan pada Pakde Nugroho untuk pembebasannya. Sementara Gadis tertangkap dan dianggap sebagai gerwani, ia hamil dalam penjara sampai akhirnya meninggal saat akan melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan.

Sepeninggalan Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk sampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.

Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya dan Mbah Wedok. Saat mereka berjalan tiba-tiba Gus Hari menarik tangan Lantip, dan akhirnya mereka bertiga pergi berjalan kaki ke Wanalawas.

This entry was posted in sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s