Perubahan Semantik

Perubahan Semantik

Pada umunya perubahan semantik dapat berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin berubah total, meluas atau juga menyempit. Perubahan total berarti berubahnya makna suatu kata hingga memiliki makna yang sangat berbeda dari makna asalnya. Contohnya dalam bahasa Indonesia, kata pena pada mulanya berarti ‘bulu’ dan kini maknanya sudah berubah total menjadi ‘alat tulis yang menggunakan tinta’.

Perubahan makna meluas artinya suatu kata dulunya memiliki satu makna namun kini, memiliki lebih dari satu makna. Contohnya kata petani dulu bermakna ‘seseorang yang bekerja dan menggantungkan hidupnya dari mengerjakan sawah’, tetapi sekarang kata tersebut dipakai untuk keadaan yang lebih luas. Penggunaan pengertian petani ikan, petani tambak, petani lele merupakan bukti bahwa kata petani meluas penggunaannya. Kata berlayardulu memiliki makna ‘menyeberangi laut dengan perahu layar’, tetapi kini memiliki makna ‘menyeberangi laut dengan kendaraan apa saja’.

Perubahan makna menyempit artinya suatu kata yang awalnya memiliki makna yang luas, tetapi kini menjadi lebih sempit maknanya. Contohnya kata sastra dulu memiliki makna ‘tulisan dalam arti luas atau umum’, sedangkan sekarang hanya dimaknai ‘tulisan yang berbau seni’. Kata pendeta dulu bermakna ‘semua orang pintar dan bijaksana’, tetapi sekarang hanya digunakan sebagai ‘sebutan pemuka atau pemimpin agama Kristen’.

9.2 Pergeseran Bahasa

Pergeseran bahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa saja terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lainnya. Untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk setempat maka para pendatang sedikit demi sedikit harus mempelajari bahasa yang digunakan penduduk setempat. Secara tidak langsung hal ini akan membuat para pendatang mulai meninggalkan bahasanya sendiri. Apabila hal ini terjadi dalam masyarakat Indonesia, tentu saja para pendatang masih bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antar suku. Akan tetapi, tetap sulit apabila para pendatang tidak memahami dan menguasai bahasa Indonesia. Dengan terpaksa mereka akan berkomunikasi dengan menggunakan alat seadanya dan sebisanya.

Salah satu contoh pergeseran bahasa: Toto dan Firman, dua orang mahasiswa yang tinggal di Bali. Mereka berasal dari Jawa. Pertama kali datang ke Bali mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Bali, untuk berkomunikasi dengan teman-teman dan orang-orang di sekitarnya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Selanjutnya, karena teman-teman dan orang sekitarnya sering menggunakan bahasa Bali, mereka akhirnya mencoba untuk belajar bahasa Bali. Setelah dua tahun tinggal di Bali keduanya terbiasa menggunakan bahasa Bali dalam setiap keperluan, kecuali memang diperlukan menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya mereka pun tidak pernah lagi menggunakan bahasa ibu mereka, terutama di tempat umum. Di sini telah terjadi pergeseran bahasa. Kedudukan bahasa Jawa mereka, yang merupakan bahasa pertama telah bergeser oleh bahasa Bali dan bahasa Indonesia.

Pergeseran bahasa seringkali terjadi di Negara, daerah, atau wilayah yang memberikan harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang para imigran/transmigran untuk mendatanginya. Fishman (1972)  telah menunjukan terjadinya pergeseran bahasa para imigran di Amerika. Ada kemungkinan keturunan ketiga atau keempat dari para imigran itu sudah tidak mengenal lagi bahasa ibunya (B-ib), dan mungkin terjadi monolingual bahasa inggris (B-in). pergeseran bahasa para imigran tersebut dapat dilukiskan seperti diagram di bawah ini.

Monolingual

(B-ib)

 

Bilingual setara

(B-ib-B-in)

 

Bilingual bawahan

(B-ib-B-in)

 

Monolingual

(B-in)

 

Bilingual bawahan

(B-in-B-ib)

 

 

9.3 Pemertahanan Bahasa

Penggunaan bahasa ibu (B1) oleh sejumlah penutur dari suatu masyarakat yang bilingual atau multilingual cenderung menurun akibat adanya bahasa kedua (B2) yang mempunyai fungsi yang lebih superior. Terkadang, bisa saja terjadi pengguna B1 yang jumlah penuturnya tidak terlalu banyak bisa tetap bertahan dari pengaruh B2 yang lebih dominan. Contohnya dapat kita ambil dari laporan Sumaryono (1990) tentang pemertahanan penggunaan bahasa Melayu Loloan di desa Loloan, Negara, Bali. Penduduk desa Loloan yang jumlahnya kurang lebih tiga ribu orang, yang menganut agama Islam, masih tetap dapat menggunakan B1, yakni bahasa Melayu Loloan untuk berkomunikasi meski mereka tinggal di tengah-tengah B2 yang lebih dominan yaitu bahasa Bali.

Dalam masyarakat Loloan selain ada B1 (bahasa Melayu Loloan) dan B2 lama (bahasa Bali), ada lagi B2 lain yaitu, bahasa Indonesia. Menurut pandangan masyarakat Loloan, bahasa Indonesia dianggap sama dengan bahasa Loloan karena status dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara, bahasa nasional dan bahasa persatuan. Dari pandangan tersebut, terihat bahwa pemertahanan bahasa Melayu Loloan terhadap bahasa Indonesia menjadi lemah.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina.2010.Sosiolinguistik Perkenalan Awal.Jakarta:Rineka Cipta

About these ads
This entry was posted in linguistik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s